SHARE

Jakarta – Harga avtur di bandara Indonesia menjadi sorotan karena harganya yang mahal. Monopoli Pertamina dalam penjualan bahan bakar pesawat dituding menjadi sebab dari mahalnya harga avtur.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan bahwa harga avtur di Bandara Internasional Soekarno Hatta lebih mahal dibandingkan di Bandara Internasional Changi, Singapura. Ia mengutip data harga kontrak avtur Bandara Soetta per November 2018 sebesar US$ 107,70 per barel sedangkan di Bandara Changi US$ 102,10 per barel.

“Berdasarkan harga MOPS, kalau kita lihat MOPS yang sebelah kanan itu per barel,” kata Mamit kepada detikFinance, Selasa (12/2/2019).


Di kawasan regional, harga avtur termurah ada di Bandara Changi yang kemudian disusul oleh Bandara KLIA sebesar US$ 103,50 per barel dan Bandara Hong Kong US$ 103,80 per barel.
Selanjutnya, harga jual avtur di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok dijual sebesar US$ 105,20 per barel diikuti Bandara Don Mueang US4 106,30 per barel hingga Bandara Schiphol US$ 107,10 per barel.

Namun, harga avtur di Bandara Penang lebih mahal dari Bandara Soetta yaitu sebesar US$ 110 per barel dan Bandara King Abdul Aziz US$ 112,10 per barel.

“Padahal Arab Saudi terkenal sebagai negara penghasil minyak dunia,” ujar Mamit.

“Jadi kita tidak termahal di ASEAN,” tambahnya.

Di sisi lain, Pertamina juga melayani avtur di seluruh bandara Indonesia. Bahkan termasuk di bandara yang lokasinya terpencil.

“Pertamina harus mensupply avtur ke bandara yang masuk kategori remote. Sehingga mereka harus melalukan subsidi silang. Jika swasta ingin masuk, maka mereka harus bermain di wilayah remote juga,” tutur Mamit. (ara/zlf)

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here