SHARE

Pekanbaru – Harimau yang memangsa Jumiati di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, sudah hampir dua bulan belum tertangkap. Pawang dari Aceh pun diperbantukan untuk mencari harimau itu.

Juru bicara Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKASDA) Riau, Dian Indriati, mengatakan pawang harimau itu bernama Sarwani, yang juga pegawai BKSDA Aceh.

“Dia memiliki kemampuan menangani harimau. Dan beberapa kasus sudah berhasil dia tangani,” kata Dian kepada detikcom, Selasa (13/2/2018).

Dian menjelaskan kini Sarwani sudah berada di lokasi konflik, Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Inhil. Di daerah tersebut diperkirakan ada dua ekor harimau jenis betina yang sudah diberi nama Bonita dan Boni.

Harimau Bonita-lah yang diduga kuat memangsa Jumiati hingga tewas.

“Yang jelas, segala upaya akan coba kita lakukan untuk menyelamatkan manusia dan satwa itu sendiri,” kata Dian.

Pihak BBKSDA Riau saat ini sudah memasang kotak perangkap (box trap) untuk menangkap harimau dengan umpan kambing jantan. Dari pengamatan camera trap, terlihat harimau Bonita sudah mendekat ke box trap tersebut. Namun harimau tersebut belum masuk ke dalam kotak perangkap.

Jumiati tewas pada Rabu (3/1) saat bekerja di kebun sawit PT Tabung Haji Indo Plantation. Kawasan perkebunan ini diperkirakan sebagai wilayah jelajah harimau.

Sudah ada enam tim yang silih berganti berupaya menangkap harimau ini. Dari camera trap yang dipasang BBKSDA Riau, dari Suaka Margasatwa Kerumutan hingga ke lokasi tempat Jumiati menjadi korban konflik, terlihat ada lima harimau, termasuk Bonita dan Boni.
(cha/jbr)

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here