SHARE

Jakarta – Belakangan ini marak penganiayaan terhadap ulama di beberapa tempat. Di Kabupaten Bogor, Jawa Barat sendiri, dari dua kasus penganiayaan terhadap ulama dan masyarakat dilakukan oleh orang dengan masalah kejiwaan (ODMK).

Mencegah hal itu terulang, Polres Bogor melakukan upaya preventif dengan mengamankan sejumlah ODMK yang berkeliaran di jalan. Operasi sudah berjalan selama dua hari dan sudah ada 16 orang ODMK yang diamankan polisi.

Dicky mengatakan, beberapa di antaranya diamankan hanya mengenakan pakaian dalam. Ada juga yang berpakaian compang-camping.

“Mayoritas orang gangguan jiwa itu kami amankan saat berkeliaran di jalan atau di pemukiman. Mereka kami amankan hasil dari operasi selama dua hari sejak Senin kemarin,” kata Dicky dalam keterangannya kepada detikcom, Rabu (14/2/2018).

Polisi kemudian membawa mereka ke kantor kepolisian. Di sana, para ODMK ini dimandikan hingga disuapi oleh anggota kepolisian serta diberikan pakaian yang layak, sebelum akhirnya dibawa ke Suku Dinas Sosial Kabupaten Bogor untuk penanganan lebih lanjut.

Beberapa di antaranya dipulangkan ke pihak keluarga setelah polisi melakukan identifikasi.

“Sisanya kami serahkan ke Dinas Sosial untuk dilakukan pendataan dan penanganan,” imbuhnya.

Polisi menggunakan alat Mambis untuk mengidentifikasi para ODMK ini. Setelah diketahui alamatnya masing-masing, Polres Bogor meminta bantuan ke Polres setempat guna menyampaikan kabar ditemukannya ODMK di wilayah Bogor ke anggota keluarganya.

Salah satunya, seperti Kholifa Irosyidin (31), warga Musi, Banyuasin, Sumatera Selatan. Lewat bantuan Polres setempat, Polres Bogor berhasil menghubungi keluarga Kholifa.

“Dan dari keterangan keluarhra Kholifa, memang yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa dan ada surat keterangan dari RT setempat juga yang diterbitkan tahun 2013,” tuturnya.

Selain untuk mencegah terjadinya penganiayaan terhadap ulama dan masyarakat, polisi juga mengamankan pra ODMK agar mereka tidak mengalami kekerasan atau tindakan menyimpang lainnya. Kapolres pun mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dengan berita yang tidak benar ketika bertemu dengan ODMK.

Polda Banten dan Dinsos Razia Orang Gangguan Jiwa

Polda Banten melakukan langkah terkait maraknya isu penyerangan terhadap tokoh agama. Seluruh jajaran Polres diminta melakukan razia bersama Dinas Sosial khususnya terhadap orang gila yang berkeliaran.

Kapolda Banten Brigjen Pol Listyo Sigit Prabowo mengatakan, razia terhadap orang gila sudah diintruksikan sejak Selasa (14/2) kemarin. Razia dilakukan sampai situasi kondusif dari isu-isu penyerangan tokoh agama oleh orang gila.

Apalagi, Listyo mengatakan dalam waktu dekat ada 3 Pilkada di daerahnya. Termasuk pada tahun depan akan memasuki tahun politik yaitu Pileg dan Pilpres.

“Harapan kita jangan sampai terjadi lagi korban atas berkembangnya isu ini,” kata Listyo kepada wartawan di Kota Serang, Banten, Rabu (14/2/2018).

Kapolda BantenKapolda Banten Foto: ist

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa seluruh jajaran Polres sudah bergerak melakukan pertemuan dengan tokoh ulama di Banten. Dari pertemuan tersebut, antara TNI, Polri, dan tokoh ulama sepakat bahwa warga tak perlu terbawa isu penyerangan terhadap ulama.

“Kita sepakat bersinergi terutama dengan ulama. Kalau ada masalah, TNI dan Polri tidak tinggal diam. Kalau ada, apalagi penyerangan terhadap ulama kita yang akan menghadapi itu semua,” paparnya.

Ia juga meminta kepada warga agar tidak khawatir dan panik atas berkembangnga isu penyerangan ulama. Bila ditemukan seseorang yang mencurigakan, ia meminta agar melaporkan hal tersebut kepada kepolisian.

“Jangan sampai terpancing isu dan mengambil langkah sendiri,” ucapnya lagi.
(rvk/rvk)

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here