SHARE

Pada Jumat (22-02-2019) lalu, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI, Sugiyartanto, dan sejumlah pejabat dari Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR RI berkunjung ke Stasiun Bundaran Hotel Indonesia dan berkesempatan menjajal kereta MRT Jakarta menuju Stasiun Lebak Bulus dan kembali ke Stasiun Bundaran Hotel Indonesia. Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, menerima langsung kunjungan tersebut.

Selama mendampingi, William menjelaskan tentang profil fase I dan sejumlah fitur yang ada di stasiun dan kereta. “Kita sekarang berada di kedalaman sekitar 18 meter dari permukaan tanah. Saat ini kami sudah mencapai 98,6 persen penyelesaian konstruksi dan rangkaian uji coba sedang berlangsung hingga nanti Maret 2019 target beroperasi secara komersial,” ucap William dari area peron Stasiun Bundaran HI. “Di fase I ini akan ada 16 rangkaian kereta, di mana satu rangkaian terdiri dari enam kereta yang mampu mengangkut sekitar 1.900 penumpang. MRT Jakarta menargetkan 130 ribu penumpang setiap hari,” lanjut ia.

Baca juga: Perkembangan Konstruksi Fase I Selesai 98,6 Persen

Sugiyartanto, yang terlihat fokus mendengarkan penjelasan William, lalu mengungkapkan tentang harapannya untuk berkolaborasi dengan MRT Jakarta. ”Mestinya kita bisa kolaborasi dengan membuat rencana induk (masterplan) transportasi secara kumulatif. Kita kan ada juga yang tol elevated jadi sisi connecting atau tempat pemberhentiannya bagaimana yang tol bisa terhubungkan dengan MRT,” ujar ia ketika tiba di Stasiun Lebak Bulus. “Penyamaan dari tarif misalnya sehingga suatu saat nanti sudah tidak ada lagi yang berhitung-hitung kalau naik transportasi A lebih murah, naik transportasi B lebih mahal, atau lainnya, jadi semua sudah terdistribusi dengan baik,” lanjut ia.

Baca juga: MRT Jakarta Gunakan Kontrak FIDIC

Ia juga memberikan apresiasi terkait konstruksi MRT Jakarta. “Ini kan berbasis FIDIC ya jadi quality control nya pasti lebih terjamin aspek qualityassurance nya. Expert MRT Jakarta pasti lebih responsive terhadap jaminan quality assurance nya dan juga kompetensi MRT Jakarta belajar langsung dari Jepang,” kata Sugiyartanto. Ia juga berharap agar dengan proses waktu, pembangunan MRT Jakarta di fase-fase selanjutnya dapat terus menjaga kualitas konstruksinya. Sugiyartanto juga mendorong kota metropolitan lain di Indonesia untuk mengembangkan pola transportasi massalnya sehingga polusi dapat dikurangi serta mengurangi pola subsidi termasuk kerugian akibat kemacetan. “Saya kira yang utama adalah kita harus bisa menggiring masyarakat menggunakan transportasi massal,” lanjut ia. [NAS]

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here