SHARE

Dalam pertemuan rutin bulanan (town hall meeting) karyawan PT MRT Jakarta yang berlangsung di Kantor Pusat PT MRT Jakarta di Wisma Nusantara pada Jumat (9-8-2019) lalu, Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta, Muhammad Effendi, menyampaikan sejumlah hal terkait dampak gempa bumi yang terjadi pada Jumat, 2 Agustus 2019 lalu dan padam listrik massal (blackout) pada Minggu, 4 Agustus 2019 lalu. Ia memaparkan situasi operasi kereta ketika kejadian berlangsung.

“Gempa dirasakan pada pukul 19.05 WIB di area jalur utama (mainline). Pusat Kendali Operasi segera menginformasikan ke semua masinis bahwa kereta akan dihentikan di stasiun dan memberlakukan platform hold. Saat itu, terdapat 10 rangkaian kereta yang berada di jalur utama. Pusat Kendali Operasi (OCC) kemudian kembali mengoperasikan kereta dengan jadwal normal setelah keterlambatan selama 10 menit 43 detik,” jelas ia di hadapan sekitar 200-an karyawan yang hadir dalam pertemuan bulanan tersebut. Pagi itu, jajaran Direksi PT MRT Jakarta hadir mengikuti acara yang berlangsung sekitar dua jam tersebut.

Terkait padam listrik massal yang melanda Jawa dan Bali, lanjut Effendi, gardu listrik MRT Jakarta mendeteksi hilangnya suplai listrik pada pukul 11.50 WIB. “Di saat bersamaan, genset menyuplai listrik darurat non-traksi. Saat padam listrik massal tersebut terjadi, ada tujuh rangkaian kereta yang sedang beroperasi di jalur utama. Empat di antaranya berhenti di antara stasiun, yaitu di antara Stasiun Lebak Bulus Grab-Stasiun Fatmawati, Stasiun Fatmawati-Stasiun Lebak Bulus Grab, Stasiun Istora-Stasiun Bendungan Hilir, dan Stasiun Bendungan Hilir-Stasiun Istora,” jelas ia. “Tim berhasil mengevakuasi 3.410 orang pengguna MRT Jakarta dengan selamat,” lanjut ia disambut tepuk tangan hadirin.

Dari analisis yang dilakukan oleh Tim Direktorat Operasi dan Pemeliharaan, diketahui bahwa padam listrik massal (blackout) mengakibatkan tidak beroperasinya MRT Jakarta selama 8 jam 10 menit dan terdapat penurunan persentase penumpang hingga 16,43 persen pada hari itu. “Ketika MRT Jakarta kembali beroperasi dengan jadwal normal pada pukul 20.00 WIB, diputuskan untuk memberikan pelayanan gratis kepada masyarakat,” ujar Effendi. Khusus kerugian pendapatan finansial yang ditimbulkan saat padam listrik massal tersebut diperkirakan mencapai Rp507 juta, yang berkaitan dengan potensi kehilangan penumpang sekitar 52.898 orang pada hari tersebut.

Survei daring sederhana kemudian dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh dampak insiden terhadap reputasi perusahaan. Dari 123 responden, 83,7 persen responden menyatakan tidak terpengaruh atas kejadian gempa dan padam listrik tersebut dan tetap akan menggunakan layanan MRT Jakarta secara rutin dalam kegiatan mobilitas sehari-harinya. Divisi Pemeliharaan juga melakukan pemeriksaan terhadap sarana MRT Jakarta. Hasilnya adalah semua sarana dalam kondisi baik dan tetap siap untuk beroperasi normal. “Total ada delapan rangkaian kereta yang kami periksa mulai dari start up test, fisik, hingga sistem,” ujar ia.

“Kejadian ini memberikan pelajaran bagi kami untuk tetap bekerja menjaga seluruh sarana dan prasarana operasi agar tetap dalam kondisi baik dan siap dalam kondisi apapun. “Selain itu, kami juga akan melakukan uji coba atau simulasi bencana banjir untuk menguji keandalan peralanan perawatan dan pemeliharaan,” lanjut Effendi. Dalam kesempatan ini pula, Direktur Keuangan dan Manajemen Perusahaan PT MRT Jakarta, Tuhiyat, memaparkan tentang sejumlah peraturan baru terkait sistem keuangan dan aturan kepegawaian. [NAS]

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here