SHARE

Meski demikian, tak semua pihak menilai penerapan sistem satu arah di Tol Trans Jawa dapat mengurai kemacetan. Pengusaha menilai penerapan sistem satu arah justru berpotensi mengganggu arus logistik barang. 

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Zaldy Ilham Masita mengatakan, dampak sistem satu arah terhadap logistik pasti ada. Khususnya bagi arus logistik yang berlawanan arah saat sistem satu arah tersebut berlangsung.

“Dampaknya pasti ada untuk logistik, terutama untuk truk balikan yang kembali ke barat dari timur,” ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com.

Namun demikian, Zaldy berharap pemerintah menyiapkan solusi bagi angkutan logistik saat sistem ini diterapkan. Salah satunya dengan menyediakan jalur alternatif yang lancar bagi angkutan logistik yang berlawanan arah.

“Alternatifnya truk balikan lewat jalan non-tol,” tandas dia.

Sementara itu, Direktur Operasi PO Maju Lancar, Adi Prasetyo Adi mengkhawatirkan, kalau ada pengumuman tanggal pemberlakukan sistem satu arah di Tol Trans Jawa akan mendorong pemudik untuk lewat tol tersebut karena berpikir lancar.

Bila sistem satu arah diberlakukan memang akan membuat jalan lancar dari Jakarta ke Cikampek hingga Brexit. Namun, sesudah keluar dari pintu tol Brexit, Adi menilai akan ada kemacetan di pintu keluar tol Kartasura, Salatiga, Solo, dan Semarang.

“Tanggal pemberlakuan giring opini kalau tanggal itu lancar, ini psikologis, dampaknya juga ke ujungnya. Jakarta, Jabar hingga Brexit lolos, nah pas di Solo,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Lebih lanjut ia menuturkan, pihaknya hormati dan mendukung sistem satu arah di Tol Trans Jawa bila pemberlakukan sistem satu arah di Tol Trans Jawa tentatif atau tidak diberitahukan tanggal penerapan. Ini akan membuat masyarakat kreatif dan berpikir untuk mencari jalan alternatif sehingga dapat urai kemacetan. “Kalau macet, masyarakat bisa keluar nanti lewat jalur bawah misalkan Bawean,” tutur dia.

Adi menuturkan, sistem satu arah di Tol Trans Jawa dapat membuat perusahaan otobus menempuh waktu lebih lama lantaran melewati jalur pantura lama.

Ia mengkhawatirkan infrastruktur di jalur pantura lama belum memadai sehingga membuat perjalanan lebih lama, belum lagi ditambah pasar tumpah yang dapat hambat perjalanan bus. 

“Kalah retase karena berkurang. Biasanya dua hari bisa dapat dua rit jadi dua hari cuma satu rit. Lewat pantura lama banyak pasar tumpah, jalan-jalan bolong belum diperbaiki, sehingga kecepatan armada kita berkurang dan waktu tempuh lebih lama. Ini juga bisa buat bus yang masuk ke Jakarta telat,” ujar Adi.

Adi menambahkan, tersambungnya Tol Trans Jawa menciptakan euforia sehingga membuat masyarakat memilih jalur darat dan naik mobil pribadi untuk coba menjajal tol tersebut.

“Perlu dikaji lebih dalam satu arah karena ujung-ujungnya ada bottleneck. Terjadi euforia naik mobil pribadi karena berpikir lancar dengan ada tol Trans Jawa,” ujar dia.

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here