SHARE

“Hari ini saya meninjau pelaksanaan proyek MRT di Jakarta ini yang sudah mencapai 98,9 persen. Terkait dengan aspek K3, kita berterima kasih kepada PT MRT Jakarta yang sejak pengerjaan proyek ini dimulai 2013 lalu, tidak ada kecelakaan kerja yang signifikan. Satu prestasi yang patut diapresiasi oleh pemerintah. Kita juga bisa mulai berbangga karena dalam waktu yang tidak lama lagi, kita akan bisa menikmati MRT pertama di Indonesia dan sekitar 12 Maret nanti akan dibuka uji coba publik sehingga masyarakat bisa mencoba sebelum beroperasi secara komersial,”

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Ketenagakerjaan RI, Muhammad Hanif Dhakiri, dari dalam kereta MRT Jakarta yang sedang menuju Stasiun Bundaran Hotel Indonesia. Hanif Dhakiri dan rombongan dari Kementerian Ketenagakerjaan RI melakukan kunjungan kerja ke PT MRT Jakarta pada Senin (25-02-2019) lalu di Kantor Pusat PT MRT Jakarta di Wisma Nusantara, Jakarta Pusat yang dilanjutkan dengan menjajal kereta dari Stasiun Bundaran Hotel Indonesia ke Stasiun Lebak Bulus dan kembali ke Stasiun Bundaran HI. Kunjungan tersebut disambut langsung oleh Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta, Muhammad Effendi, dan Direktur Keuangan dan Administrasi PT MRT Jakarta, Tuhiyat. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi DKI Jakarta, Andri Yansyah, terlihat hadir menyambut kedatangan rombongan.

“Untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sejak pembangunan kita lihat tidak ada masalah dalam proses konstruksi. Kita lihat di PT MRT Jakarta K3 cukup memadai, manajemen K3 dijalankan dengan baik, pembangunan kesadaran di tingkat pekerjanya cukup kuat karena bisnis transportasi itu setengahnya adalah bisnis keselamatan, kalau misalnya safety nya nggak bagus, berarti kredibilitasnya nggak ada. Urusan safety di MRT ini saya lihat sangat baik,” lanjut ia.

Selain mengapresiasi aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) PT MRT Jakarta, Hanif Dhakiri juga yakin dengan pertumbuhan kantong ekonomi sepanjang jalur MRT Jakarta. “Lapangan kerja akan muncul. Contohnya sejak awal pembangunan MRT Jakarta, ada sekitar 10 ribuan tenaga kerja yang terlibat. Begitu juga ketika nanti beroperasi akan menciptakan lapangan pekerjaan, pertumbuhan kantong ekonomi sekitar jalur yang dilewati, seperti kos-kosan baru, harga tanah makin bagus, warung makan karena dengan waktu tempuh yang cepat, bekerja di sekitar HI bisa makan di sekitar Lebak Bulus atau sebaliknya,” ucap ia. Ia juga yakin bahwa kehadiran MRT Jakarta akan banyak membantu kemudahan transportasi di masyarakat karena akan mentransformasi kebudayaan seperti antre, tepat waktu, membiasakan membuat jadwal perjalanan. “Saya yakin akan banyak perubahan budaya di masyarakat ketika MRT Jakarta nanti beroperasi,” ujar Hanif.

William Sabandar pun menyampaikan bawah MRT Jakarta memiliki sejumlah ketentuan yang harus dipatuhi. “Safety adalah bisnis kami. Kami memiliki kebijakan keselamatan dan kerehatan kerja, manajemen keselamatan perkeretaapian dan manajemen pengamanan. Kami tidak main-main dengan keselamatan dan kesehatan kerja,” tegas William. Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini ada sekitar 550 karyawan MRT Jakarta, dengan 350 orang terlibat langsung menjalankan operasi, dan 200 orang di kantor pusat, di luar dari karyawan dari pihak ketiga (outsource) di bagian pelayanan kebersihan, pengamanan, dan frontliner. Pada Januari 2019 lalu, PT MRT Jakarta dinyatakan lulus/memenuhi syarat dengan predikat “Memuaskan” dalam audit eksternal untuk 166 kriteria dengan hasil 153 (92,7 persen) memenuhi syarat kelulusan. [NAS]

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here