SHARE

Suasana penuh keakraban terlihat di kereta nomor empat salah satu rangkaian kereta MRT Jakarta yang sedang bergerak menuju Stasiun Senayan. Sesekali terdengar gelak tawa dari obrolan rombongan yang mengikuti rangkaian uji coba kereta tersebut. Sore itu, direksi PT MRT Jakarta menerima kunjungan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani, yang datang bersama Wakil Menteri Keuangan RI, Mardiasmo, dan rombongan, pada Rabu (6-3-2019) lalu. Menteri Sri Mulyani tiba di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia sekitar pukul 16.00 WIB dan langsung meninjau stasiun terakhir di fase I MRT Jakarta tersebut. Di area beranda peron (concourse), ia menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan salah satu manajer stasiun yang sedang bertugas. Begitu juga ketika tiba di area peron, ia juga berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan salah satu staf stasiun.

Menaiki kereta pukul 16.30 WIB, Menteri Sri Mulyani dan rombongan terlihat semringah ketika kereta bergerak naik menuju jalur layang. Ia juga banyak bertanya kepada direksi yang sore itu hadir lengkap. Sembari menunjukkan lembar informasi dan peta koneksi transportasi publik di Jakarta, Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, tampak menjelaskan profil fase 1 dan rencana perluasan MRT Jakarta di masa depan. Ia juga terlihat menunjuk ke luar jendela kereta ketika melihat Halte CSW Transjakarta yang rencananya akan terintegrasi dengan Stasiun Sisingamangaraja. Tiba di Stasiun Lebak Bulus, Sri Mulyani juga menyempatkan diri untuk melihat area depo dari area peron Stasiun Lebak Bulus. Tidak lama kemudian, rombongan bertolak ke Stasiun Senayan menggunakan kereta pukul 17.20 WIB

“Tadi kita merasakan nikmatnya pengalaman pertama naik kereta MRT Jakarta dari Bundaran Hotel Indonesia menuju Lebak Bulus sepanjang 16 kilometer yang ditempuh selama 30 menit. Kami senang sekali,” ujar Sri Mulyani dari area peron Stasiun Senayan. “Investasi MRT Jakarta fase I ini dibiayai oleh 49 persen Pemerintah Pusat dan 51 persen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Biaya sebesar Rp16 triliun tersebut tidak akan kembali dari pendapatan tiket semata karena yang terjadi adalah 13 stasiun akan meningkatkan nilai ekonomi dan nilai properti di sekitarnya. Perusahaan swasta bahkan ada yang menyewa stasiun agar ditambahkan nama perusahaannya. Ini berarti ada penerimaan lagi dari hak penamaan,” lanjut ia. Saya juga telah meminta tim dari Kementerian Keuangan, lanjut ia, untuk bekerja sama dengan tim dari PT MRT Jakarta untuk menghitung dampak ekonominya karena ini sesuatu yang baru sehingga nanti kita bisa lihat berapa sebetulnya dampak eonomi dari infrastruktur ini. “Baik dari sisi propertinya maupun dari sisi waktu tempuh sekitar 130 ribu orang yang nantinya akan menggunakan fasilitas ini, yang tidak terkena macet, yang tidak menghabiskan bahan bakar kendaraan bermotor mereka, karena juga nanti pasti memberikan penghematan pengeluaran dan perbaikan lingkungan,” kata ia.

Sri Mulyani juga berharap agar MRT Jakarta dapat berkembang lebih jauh sehingga fasilitas dan konektivitas dengan moda transportasi umum lainnya semakin baik. “Entah itu dari sisi tiket maupun integrasi koridor utara-selatan-timur-barat sehingga masyarakat semakin nyaman dan efisien dalam waktu tempuh dengan kendaraan umum baik itu kereta maupun bus,” ucap ia. Ia juga menyampaikan bahwa Kementerian Keuangan RI bersama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan terus mendukung dan membantu dalam pengelolaan MRT Jakarta agar dapat terus memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. [NAS]

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here