SHARE

Surabaya – Sejumlah pengeboman terjadi di Surabaya dan Sidoarjo dalam 2 hari. Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut bom yang digunakan diduga adalah triacetone triperoxide (TATP) yang berdaya ledak tinggi dan berbahaya.

“Saking bahayanya, dinamakan ‘The Mother of Satan’ karena daya ledaknya tinggi,” kata Tito dalam jumpa pers di Mapolda Jawa Timur, Senin (14/5/2018).


‘Mother of Satan’ pertama meledak di Gereja Santa Maria Tak Bercela pukul 06.30 WIB, Minggu (13/5). Bom itu diledakkan 2 putra teroris Dita Oeprianto (48), YF (18) dan FA (16) yang berboncengan mengendarai sepeda motor. Selain pelaku, ada 5 warga yang jadi korban jiwa.

Bom kedua meledak di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surabaya yang terletak di Jl Diponegoro pukul 07.15 WIB di hari yang sama. Bom itu diledakkan oleh istri Dita, Puji Kuswati (43) yang mengajak 2 putrinya yakni FS (12) dan FR (9). Mereka sebelumnya diantar oleh Dita dengan mobil. Tak ada warga yang jadi korban jiwa dari ledakkan ini.

Bom ketiga yakni diledakkan sendiri oleh Dita di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya pukul 07.53 WIB. Dita meledakkan bom dengan menabrakkan mobil ke gereja tersebut. Ada 6 warga yang jadi korban jiwa.

Selanjutnya adalah bom yang meledak di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Bom itu meledak saat penindakan oleh Densus 88. ‘Mother of Satan’ ini jadi senjata makan tuan yang menewaskan 3 terduga teroris.

Mother of Satan bukan kali ini dipakai oleh teroris di Indonesia. Sebelumnya pada bom yang meledak di Kampung Melayu pun menggunakan jenis bom yang sama.

Bom di Kampung Melayu yang juga menggunakan ‘Mother of Satan’ meledak pada Rabu (24/5/2018). Sebanyak 3 anggota Polri dan 2 pelaku tewas akibat peristiwa ini.

Pada September 2017, ‘Mother of Satan’ meneror Paris, Prancis. Bahan bom ini ditemukan dalam sebuah apartemen di Villejuif, pinggiran Paris pada Rabu (6/9/2017) waktu setempat.

Teroris yang beraksi di Brussels, Belgia, tahun 2016 pun diduga memakai ‘Mother of Satan’. Sebanyak 31 orang tewas dan 300 lainnya luka-luka pada teror yang terjadi di bandara Brussels pada Selasa (22/3/2016).

Bom jenis ini banyak dipakai oleh kelompok ISIS dalam aksi mereka di Irak dan Suriah. Namun pernah ada juga ‘lone wolf’ peneror bom yang beraksi memakai ‘Mother of Satan’. Peristiwa ini terjadi tahun 2015 saat Leopard Wisnu Kumala berhasil meledakan 2 bom di Mal Alam Sutera pada 9 Juli dan 28 Oktober 2015, namun dia juga gagal meledakkan 2 bom lainnya.

Leopard tak terafiliasi dengan kelompok manapun. Motifnya waktu itu adalah untuk memeras pihak mal demi mendapatkan bitcoin.
(bag/aan)

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here