SHARE

Ada perubahan gaya hidup masyarakat Jakarta dengan hadirnya MRT di ibu kota. Perjalanan sekitar 16 kilometer dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kini ditempuh hanya 30 menit dari yang biasanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Penghematan waktu perjalanan ini berarti masyarakat Jakarta bisa melakukan hal lain yang produktif dan efisien dalam kesehariannya. Misalnya pekerja di area MH Thamrin dapat makan siang di daerah Senayan dengan perjalanan kurang dari 10 menit. Ada pola hidup sehari-hari di masyarakat. Selain itu, ada perubahan perilaku dan budaya ketika bertransportasi yang muncul, yaitu lebih tertib, antre dengan rapi, serta disiplin menjaga kebersihan area stasiun dan kereta. Perilaku dan budaya ini adalah bentuk penerapan toleransi dan berbagai dengan orang lain di ruang publik. Dengan berperilaku seperti itu berarti kita menghargai dan memikirkan kenyamanan orang lain.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim, ketika berbicara sebagai salah satu narasumber dalam sesi diskusi panel “Seminar Nasional Kebangsaan: Kebudayaan Indonesia Dalam Dimensi Kekinian dan Perspektif Masa Depan” yang diselenggarakan oleh Forum Gelora Kebangsaan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Seminar nasional yang berlangsung selama dua hari sejak Rabu-Kamis, 3-4 Juli 2019 lalu di Hotel JS Luwansa tersebut membicarakan tentang memajukan kebudayaan. Silvia Halim pun mengangkat tema transformasi budaya membangun peradaban.

Silvia Halim juga menyampaikan apresiasi atas antusiasme masyarakat untuk menggunakan MRT Jakarta dalam kesehariannya. “Saat membangun MRT Jakarta, ada harapan besar terhadap perubahan kota dan masyarakatnya. Perubahan kotanya jelas untuk mengatasi kemacetan,” ucap ia di hadapan sekitar 300-an peserta seminar dari sejumlah provinsi di Indonesia. “Sejak MRT beroperasi, targetnya “hanya” 65 ribu orang per hari, sekarang sudah lebih dari 80 ribu orang per hari. Bahkan, beberapa minggu terakhir ini, kita sudah mencapai 100 ribu orang per hari. Ini indikasi baik bahwa ada perubahan mulai terjadi orang berpindah dari kendaraan pribadi ke transportasi publik,” ungkap disambut tepuk tangan hadirin. Bagi MRT Jakarta, lanjut Silvia, ini adalah tantangan untuk terus meningkatkan layanan demi kenyamanan penumpang. “Perubahan ini adalah upaya bersama baik pemerintah maupun masyarakat itu sendiri,” ujar perempuan yang bergabung dengan PT MRT Jakarta pada Oktober 2016 silam ini.

Meski mengusung perubahan di masyarakat, Silvia juga menyampaikan bahwa perubahan di MRT Jakarta juga mutlak dilakukan. “Kami ada nilai-nilai yang kami sebut ICAN, yaitu Integrity, Costumer Focus, Achieving Orientation, and Nurturing Teamwork. Hal inilah yang akan menghasilkan operasionalisasi terbaik yang terus mengedepankan aspek kualitas, keselamatan, dan selalu dapat diandalkan,” ungkap ia. “PT MRT Jakarta juga terdiri dari 80 persen usia milenial sehingga ada tanggung jawab bukan hanya membangun infrastruktur namun juga membangun sumber daya manusia muda Indonesia sebagai calon pemimpin di masa depan,” pungkas ia. [NAS]

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here