SHARE

Naypyitaw – Sejumlah pangkalan militer Myanmar dilaporkan dibangun di kawasan Rakhine, yang sebelumnya ditinggali warga etnis minoritas muslim Rohingya. Pembangunan ini dilakukan setelah militer membuldoser desa-desa Rohingya yang ditinggalkan penghuninya sejak operasi militer beberapa waktu lalu.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (13/3/2018), laporan terbaru Amnesty International menekankan laporan sebelumnya soal desa-desa Rohingya yang tak berpenghuni dan sejumlah gedung yang masih utuh, telah dibuldoser otoritas Myanmar. Laporan didasarkan pada citra satelit terbaru.

Selain aktivitas pembuldoseran, Amnesty International juga melaporkan adanya pembangunan sejumlah rumah, gedung dan jalanan di area yang sama. Dilaporkan setidaknya ada tiga fasilitas keamanan baru yang sedang dalam tahap pembangunan. Dalam satu kasus, sebut Amnesty Internasional, sejumlah warga Rohingya yang masih bertahan di Myanmar digusur demi pembangunan pangkalan militer tersebut.

“Apa yang kita lihat di negara bagian Rakhine adalah perampasan tanah oleh militer dalam skala dramatis,” ujar Direktur Penanganan Krisis Amnesty International, Tirana Hassan. “Pangkalan-pangkalan baru dibangun untuk menampung pasukan keamanan yang sama yang telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan terhadap Rohingya,” imbuhnya.

Disebutkan oleh Amnesty International, sedikitnya empat masjid yang tidak hancur dalam kebakaran, telah dihancurkan, atau bagian atap dan material lainnya dicopot. Amnesty International menyebut situasi itu terjadi sejak akhir Desember 2017, saat tidak ada konflik baru di Rakhine.

Di sebuah desa Rohingya di Rakhine, citra satelit menunjukkan keberadaan sejumlah gedung untuk pos polisi perbatasan yang baru. Gedung-gedung baru itu berdiri di dekat lokasi masjid yang telah hancur.

Amnesty International menyatakan, Myanmar ‘membentuk ulang’ area-area yang pernah ditinggali Rohingya menjadi area yang lebih mengakomodasi pasukan keamanan, bukan warga desa Rohingya. Hal ini berpotensi menangkal pengungsi Rohingya yang bersedia pulang ke Rakhine.

“Rohingya yang lolos dari kematian dan penghancuran oleh pasukan keamanan (Myanmar) kemungkinan besar tidak akan menganggap prospek tinggal di dekat pasukan yang sama, kondusif bagi kepulangan mereka,” sebut Amnesty International.

Juru bicara pemerintah dan militer Myanmar enggan memberikan komentar atas laporan ini. Namun beberapa pejabat Myanmar menyatakan desa-desa itu dibuldoser untuk mempermudah dibangunnya rumah-rumah baru bagi para pengungsi yang akan kembali dari Bangladesh.

(nvc/ita)

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here