SHARE

Palembang – Pengelola pasar tradisional Sako Mandiri kaget tiba-tiba pasar yang beroperasi setiap hari ini disegel pihak kepolisian. Akibatnya, 700 pedagang cemas dengan adanya garis polisi dan plang tanah tersebut dalam sengketa.

Dari pantauan detikcom, garis polisi dipasang dari ujung kanan dan kiri lahan parkir pasar, hanya ada sedikit celah untuk kendaraan memasuki kawasan pasar. Selain garis polisi, terdapat satu plang setinggi 3 meter bertuliskan himbauan bahwa tanah dan bangunan berada dalam pengawasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel.

Pasar Disegel/Pasar Disegel/ Foto: Raja Adil Siregar/detikcom

Pada bagian pintu bangunan, garis polisi juga terpasang dan mengikat rolling door di beberapa bangunan pasar. Aktifitas pasar tetap berjalan meskipun garis polisi menghalangi akses masuk menuju tempat perbelanjaan.

Pasar Sako Mandiri di jalan Siaran Perumnas Sako Palembang disegel oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel pada Jumat (11/8) sekitar Pukul 16.30 WIB. Penyegelan pun disebut pihak pengelola tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu oleh pihak kepolisian.

“Kemarin sore, tiba-tiba Polisi dari Dirreskrimum Polda Sumsel datang dan melakukan penyegelan dengan memasang garis polisi dan plang. Penyegelan ini juga tanpa adanya pemberitahuan pada kami sebagai pengelola tentang penyegelan itu sebelumnya,” ujar Syarifuddin selaku Humas Pasar Sako Mandiri saat ditemui detikcom, Sabtu (12/8/2017).

Ditambahkan Syarifuddin, pasar tradisional di kawasan Prumnas Sako ini telah beroperasi sejak pertengahan tahun 2016 lalu. Sekitar 700 pedagang yang direlokasi dari kaki lima yang ada di kecamatan Sako oleh pemerintah kota Palembang telah menempati kios maupun lapak turut mempertanyakan penyegelan ini.

Menurutnya, penyegelan oleh pihak kepolisian tidak memiliki dasar hukum dan dikhawatirkan akan mengganggu aktivitas jual beli dipasar tersebut. Serta berdampak pada pendapatan pedagang yang menempati kawasan pasar untuk mengais rezeki.

“Kita kasian kalau disegel seperti ini dan menurut kami sebagai pengelola, ini dasarnya apa sampai tiba-tiba langsung disegel. Bahkan, kami juga sebagai pihak pengelola bingung, garis polisi dipasang tapi kegiatan masih boleh berjalan dan ini membuat pedagang jadi cemas,” sambung Syarif mempertanyakan soal penyegelan pasar.

Lebih lanjut, Syarifuddin menjelaskan memang sejak tahun 2007 lalu ada perselisihan antara pemilik tanah dengan pihak lain. Tapi hal ini disebut telah diselesaikan melalui proses hukum dan memiliki putusan ingkrah (putusan tetap) oleh pemiliknya.

Oleh sebab itu, pihak pengelola bersama perwakilan pedagang akan menunjuk kuasa hukum untuk mempertanyakan perihal penyegelan dan pemasangan plang ini.

“Untuk kasus ini kami akan menunjuk kuasa hukum untuk melakukan upaya hukum di Mapolda Sumsel. Kita mau tahu mengapa pasar ini disegel, serta diberikan plang himbauan seperti ini,” tutupnya.

Sementara itu, Sabaruddin selaku Ketua Paguyuban Pasar Tradisional Sako Mandiri mengkhawatirkan adanya penyegelan akan berdampak pada aktifitas jual beli. Ditambah lagi saat ini sudah mendekati hari raya haji dan akan terjadi peningkatan transaksi antara pedagang dengan pembeli.

“Kami sebagai pedagang sempat kaget tiba-tiba ada penyegelan, kami ini membutuhkan lapak untuk berdagang meskipun saat ini omset belum begitu berdampak, tentu kami cemas dan butuh penjelasan. Kami berharap kepastian untuk kedepan oleh pemerintah kota Pelmbang, apalagi ini mendekati lebaran haji dengan aktifitas jual beli yang tinggi,” terangnya.

Bahkan, dirinya menerima laporan beberapa pedagang mulai resah dengan keberadaan garis polisi dan plang yang dipasang pihak kepolisian. Serta mengganggu aktivitas masyarakat yang akan belanja disana.

“Ya sangat terganggu dengan adanya ini (plang dan garis polisi), pedagang juga sudah sampaikan sama saya kalau mereka resah dan khawatir. Banyak yang takut juga untuk berbelanja kesini,” tutupnya.
(cim/elz)

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here