SHARE

Salah satu titik awal masuk untuk menciptakan sebuah kota cerdas (smart city) adalah dengan mendorong perubahan budaya dan gaya hidup masyarakat dalam menggunakan transportasi publik. Bagi Jakarta, perubahan yang sudah mulai terlihat adalah sikap antre sebelum masuk ke kereta atau berdiri rapi di eskalator. Masyarakat sudah mulai meninggalkan kebiasaan memotong atau menyerobot antrean. Hal lainnya adalah dengan mengintegrasikan seluruh moda transportasi publik yang tersedia seperti bus, kereta, hingga akses trotoar pejalan kaki.

Hal tersebut mengemuka dalam paparan Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, pada Rabu (10-7-2019) di Kedutaan Besar Swedia, Jakarta Selatan, dalam acara “Smart Mobility Workshop: Are Indonesia’s Fast-Growing Cities Ready to Take on the Challenge?”. Lokakarya tersebut bertujuan untuk mendengarkan paparan dan mendiskusikan rencana induk Indonesia dalam konteks transportasi perkotaan dan pengembangan smart mobility di tingkat nasional dan lokal, termasuk mendapatkan pelajaran dari industri Swedia terkait pengembangan konsep smart mobility di seluruh dunia dan bagaimana Swedia dapat berkontribusi pada pengembangan tersebut.

Hadir sebagai narasumber sejumlah instansi pusat maupun daerah seperti Bappenas, Kementerian Perhubungan RI, PT Sarana Multi Infrastructure (Persero), Pemerintah Kota Palangkaraya, PT Transportasi Jakarta, Pemerintah Kota Palembang, Pemerintah Kota Batam, Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), PT LRT Jakarta, Koalisi Pejalan Kaki, dan sejumlah perwakilan dari perusahaan swasta dari Swedia.

Dalam sambutannya, Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Marina Berg, menyampaikan tentang pandangan Swedia terkait smart city. “Hubungan Swedia dan Indonesia sangat spesifik, salah satunya penandatanganan Nota Kesepahaman terkait kerja sama di bidang transportasi, termasuk aspek traffic management,” ucap ia pagi itu. “Kami ingin lebih menekankan pengembangan berkelanjutan yang mengedepankan pelestarian lingkungan untuk masa depan yang lebih baik,” lanjut ia. Ia juga menekankan pentingnya kerja sama antara sektor swasta dan pemerintah untuk mencapai smart city yang berkelanjutan demi masyarakat yang lebih sehat, kualitas udara yang lebih baik serta mendorong peningkatan ekonomi.

Sedangkan Duta Besar Indonesia untuk Swedia, Bagas Hapsoro, yang hadir langsung dalam lokakarya yang penuh suasana akrab tersebut, menyampaikan sudah saatnya membicarakan masa depan terkait mobilitas. “Setiap elemen pemerintah dan masyarakat Jakarta dan Indonesia sangat antusias untuk membangun smart city. Di Swedia, masyarakat dan pemerintah bekerja sangat erat untuk membangun daerahnya menjadi smart city, seperti mendorong penggunaan sepeda dan berjalan kaki,” ujar Duta Besar Bagas.

William Sabandar juga berkesempatan menyampaikan tingkat penggunaan ratangga yang telah mencapai 82 ribu orang per hari. “Bersama dengan pemerintah pusat dan daerah, telah direncanakan untuk membangun 230 kilometer dalam 10 tahun ke depan (hingga 2030). Bekerja sama dan berkolaborasi untuk membangun kemitraan dengan setiap pihak sangat penting untuk mencapai hal tersebut,” kata William. “Kami juga sedang membangun digital platform yang memungkinkan masyarakat membeli tiket atau merchandise melalui pembayaran digital, termasuk menyusun rencana perjalanan, jadwal, rute, dan jenis transportasi terintegrasi di Jakarta,” lanjut ia. Mulai saat ini, ungkap William, kami membawa Indonesia bahkan dunia ke MRT Jakarta. “Banyak ruang untuk berkolaborasi seperti melalui pertunjukan budaya di ruang-ruang publik sekitar stasiun MRT Jakarta atau bahkan di dalam stasiun,” pungkas ia.

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here