SHARE

Ilustrasi penumpang MRT Jakarta (Miftahul Hayat/ Jawa Pos)

JawaPos.com – Rifqi Azmi, 24, salah seorang pengguna MRT menceritakan pengalamannya terjebak di dalam kereta MRT Jakarta. Dirinya bersama komunitas Indonesia Transport Change (Intrachange) tengah mengadakan edukasi bertransportasi umum kepada 31 anak yang berasal dari Community Development BEM FIS UNJ.

Pada pukul 11:45 WIB dirinya menggunakan MRT dari stasiun Dukuh Atas. ‘’Lalu pukul 11:52 WIB selepas stasiun Bendungan Hilir MRT kami mati,’’ ujarnya Minggu (4/8). Sekitar dua menit setelah mati, petugas menginfokan bahwa terjadi gangguan listrik. Para penumpang di gerbong belakang mulai berjalan menuju gerbong depan untuk bertanya ke petugas. Awalnya, dia mengira gangguan itu hanya bersifat lokal.

Kurang dari lima menit setelahnya, petugas mulai melakukan evakuasi penumpang keluar menuju gerbong paling belakang. Beruntung, jarak dengan stasiun Bendungan Hilir hanya sekitar 50 meter saja. ‘’Anak-anak kami perintahkan untuk tenang dan diam sembari kami jelaskan bagaimana penanganan dalam kondisi kereta emergency. Kaca jendela kami buka biar ada udara masuk,’’ ucapnya.

Meski begitu, dia mengapresiasi kesigapan petugas yang konsisten dalam menangani kondisi gawat darurat tersebut. ‘’Semoga semakin baik lagi kedepannya,’’ tuturnya.

Terputusnya pasokan listrik PLN juga berdampak pada terhentinya operasional kereta Moda Raya Terpadu (MRT). Total, MRT menghentikan operasional selama kurang lebih sembilan jam lamanya. Operasional MRT mandeg sejak pukul 11.50 dan kembali beroperasi normal pukul 20.00 WIB.

Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta Muhamad Kamaludin menyebut, tim Operation Control Center (OCC) MRT mendeteksi ada empat kereta Ratangga yang terhenti di antara stasiun bawah tanah. Empat lokasi itu berada pada lintasan antara Bendungan Hilir-Istora, Istora-bendungan Hilir, Lebak Bulus-Fatmawati, dan Fatmawati-Lebak Bulus.

Lima menit usai kereta berhenti, proses evakuasi langsung dilakukan terhadap seluruh penumpang, baik yang ada di stasiun maupun yang berada di kereta. Pintu platform screen door (PSD) dibuka secara manual untuk proses evakuasi penumpang.

Tak sampai satu jam, seluruh penumpang yang berada di kereta seluruhnya selesai dievakuasi. ‘’Jumlah penumpang yang dievakuasi dari seluruh stasiun berjumlah 3.410 orang. Seluruhnya dalam keadaan baik dan selamat,’’ ujar Kamal.

Kamal menyebut, sebenarnya MRT memiliki cadangan pembangkit listrik atau backup genset. Namun, genset itu ditempatkan di stasiun, bukan di kereta. ‘’Pembangkit listrik cadangan kami untuk menjamin suplai udara lancar, serta memastikan lampu emergency dan peralatan lainnya tetap menyala saat mati lampu,’’ katanya.

Dia menjelaskan, MRT Jakarta disuplai penuh dari dari dua jalur yang bersumber dari 2 subsistem 150kV PLN yang berbeda, yaitu Subsistem Gandul – Muara Karang melalui Gardu Induk Pondok Indah dan Subsistem Cawang-Bekasi melalui Gardu Induk CSW.

Dalam keadaan failure pada salah satu jalur suplai, maka satu suplai lainnya dapat menggantikan 100 persen kebutuhan daya keseluruhan MRT. ‘’Kasus ini tergolong kejadian luar biasa yang menyebabkan lumpuhnya kedua jalur suplai tersebut,’’ jelasnya.

Namun, meski begitu, pihaknya telah melakukan penanganan untuk mengamankan peralatan ketika listrik hidup kembali dan dalam kondisi siap. Sehingga, kereta MRT bisa kembali beroperasi ketika pasokan listrik dari PLN sudah kembali normal.

Tiket penumpang MRT juga dipastikan kembali. Bagi penumpang yang menggunakan kartu single trip, refund dilakukan dengan mengembalikan kartu di stasiun. Sementara bagi penumpang yang menggunakan kartu uang elektronik bank, petugas di stasiun MRT membantu melakukan reset status kartu bank di perjalanan berikutnya.

Sumber: Jawa Pos
Editor : Bintang Pradewo
Reporter : ryandizahdomo

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here