SHARE

Penyedia layanan jasa sektor transportasi saat ini tidak semata hanya memikirkan memindahkan penumpang dari satu titik ke titik berikutnya. Operator transportasi publik seperti MRT Jakarta harus bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat dengan akses dan infrastruktur yang lebih baik, seperti fitur untuk pejalan kaki, penyandang disabilitas, dan pesepeda. Harus bisa bekerja sama dan berkolaborasi dalam berbagai aspek dengan operator lain seperti bus, bahkan ojek daring. Semua dilakukan dengan tujuan agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang aman, nyaman, dan dapat diandalkan ketika menggunakan transportasi publik di kota sibuk seperti Jakarta.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi berdurasi sekitar dua jam di acara “Power Talk: Reinventing Transport in the Sharing Economy” yang diselenggarkan oleh IPMI International Business School pada Selasa (30-7-2019) lalu di kampus IPMI International Business School, Jakaarta Selatan. Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, hadir sebagai pembicara di hadapan tidak kurang dari 50-an peserta diskusi pagi itu. William hadir membawakan memaparkan perkembangan terbaru dari operasi fase I MRT Jakarta, rencana ekspansi pembangunan, sumber pendapatan non-fare box MRT Jakarta.

“Setelah penantian lebih dari 30 tahun, akhirnya Jakarta, atau Indonesia, memiliki MRT pertamanya. Meskipun baru 16 kilometer, namun saat ini MRT Jakarta telah mampu mendapatkan penumpang harian mencapai hampir 100 ribu orang per hari,” ujar ia. “Ketepatan waktu MRT Jakarta, termasuk waktu keberangkatan; durasi perjalanan; hingga waktu berhenti di stasiun, mencapai 100 persen. Ini yang sangat penting. Ketepatan waktu yang membuat masyarakat mau menggunakan transportasi publik dan mengubah gaya mobilitas mereka,” kata ia disambut tepuk tangan hadirin.

William juga menambahkan bahwa saat ini, masyarakat telah berubah lebih tertib dan disiplin dalam menggunakan transportasi publik. Antarmoda transportasi publik pun telah terintegrasi dengan lebih baik. “Misalnya ada sekurang-kurangnya lima stasiun MRT Jakarta dan halte Transjakarta yang terintegrasi secara fisik baik saat ini dan perencanaan di masa depan, yaitu di Stasiun dan Halte Lebak Bulus, Stasiun dan Halte Blok M, Stasiun dan Halte ASEAN, Stasiun dan Halte Dukuh Atas, serta Stasiun dan Halte Bundaran HI,” ujar ia sembari menunjukkan peta jaringan transportasi publik terintegrasi di Jakarta. “Selain itu, pusat perbelanjaan pun juga terintegrasi,” ujar ia sembari menunjukkan foto akses langsung dari area beranda peron Stasiun Blok M yang terintegrasi dengan salah satu pusat perbelanjaan di kawasan tersebut. Saat ini, sudah menjadi pemandangan biasa bila melihat pertunjukan seni dan budaya di beberapa stasiun MRT Jakarta. “Kami berharap stasiun MRT Jakarta dapat menjadi ruang lebur berbagai lapisan masyarakat di ibu kota,” tambah ia.

Sebagai salah satu badan usaha milik daerah di bidang pelayanan jasa, tugas utamanya adalah memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat dan juga mendapatkan pendapatan bagi daerah. Hal ini sesuai dengan mandat PT MRT Jakarta berdasarkan Peraturan Daerah DKI Jakarta No 3 Tahun 2008 tentang Pembentukan BUMD PT MRT Jakarta yang menyebutkan tiga tugas utama perusahaan, yaitu membangun infrastruktur, mengoperasikan sarana dan prasarana, serta mengembangkan bisnis. “Salah satunya adalah mendapatkan pemasukan dari sektor non-fare box, yaitu retail, telekomunikasi, iklan, dan properti,” kata William. Dengan pendapatan tersebut, lanjut ia, sebuah operator transportasi publik dapat lebih berkelanjutan untuk pengembangan di masa depan. [NAS]

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here