SHARE

Reno menegaskan, rendang sebenarnya bukan sajian, melainkan cara memasak, di mana artinya menihilkan air. “Jadi, rendang itu jangan berhenti di daging sapi saja. Semua bisa direndang asal melalui proses meniriskan air,” tuturnya pada Liputan6.com usai memberi materi di International Forum on Spice Route (IFSR) 2019 di Museum Nasional, Jakarta, Sabtu, 23 Maret 2019.

Tanah Datar sendiri, kata Reno, dikenal lewat sajian rendang belut. Sekarang, rendang disajikan dalam banyak versi. Namun, menurut Reno, setidaknya terdapat 20 jenis rendang dengan proses pembuatan orisinal di Sumatera Barat.

“Yang paling unik yang pernah saya temui itu 100 daun direndang sama rendang gulai. Daun-daun itu didapat di sekitar kampung, di bukit. Mereka tahu mana yang bisa dimakan,” katanya.

Rendang yang kini telah mendunia, lantaran sempat jadi makanan terenak di dunia versi CNN tahun 2014 dan 2017, disambut baik oleh Reno. Ia menilai, dengan begitu, rendang sudah punya lokomotif untuk lebih dikenal.

Tinggal bagaimana menambahkan narasi, cerita, dan sejarah di baliknya. Supaya semua orang tahu dan menghargai nilai kuliner Sumatera Barat tersebut. Reno mengaku tak takut orisinalitas rendang tergerus karena jadi makanan ‘mainstream’.

“Kalau nantinya orang-orang di luar sana mau membuat rendang rusa atau pakai bahan lain. Silakan saja. Kembali lagi, rendang itu kan proses memasak. Menurut saya, Sumatera Barat akan selalu jadi rumah pertama buat rendang,” paparnya.

“Istilahnya, carilah pizza di negara asalnya, begitu juga dengan rendang. Buat orang yang mau tahu bagaimana sebenarnya rasa rendang di tanah aslinya, bisa datang ke Indonesia, coba rendang di Sumatera Barat,” sambungnya.

Ia menambahkan, rendang adalah harga diri bagi masyarakat Sumatera Barat, lantaran selalu ada di upacara-ucacara penting. Merendang itu, menurut Reno, selalu tentang ketekunan, cinta, dan kesabaran.

Dalam pembuatannya, ada beberapa kebiasaan yang dilakukan. Sambil mengaduk, biasanya akan bertukar pantun, tentunya bercanda, dan berbicara tentang kutipan-kutipan leluhur.

“Rendang itu ditinggikan derajatnya dari lauk lain. Bahkan, kalau lagi makan besar bersama, ada 1 kilogram (kg) daging rendang nggak dipotong. Cuma ditaruh di ujung meja. Tidak untuk dimakan, hanya untuk dipajang,” ujarnya.

Baca Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here